Berusaha Menjadi Manusia Merdeka di Terminal

Setiap terminal (bus) ada calonya. Kita sebagai calon penumpang atau pengunjung pernah merasakan “gangguan” para calo. Tingkat “gangguan” para calo pun berbeda-beda.

Saya kira, hampir semua orang yang pernah pergi ke terminal (bus) pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan oleh perilaku para calo. Ada yang ditarik-tarik, ada yang didorong-dorong, dan sebagainya. Kalau anda yang baru atau setidaknya jarang ke terminal, tentu merasa “tersiksa”. Namun, kalau anda sering kali masuk terminal, hal-hal yang tidak berkenan itu setidaknya dapat diminimalisasi karena anda telah terbiasa.

Namun demikian, kita pun sebenarnya bisa memiliki jiwa merdeka ketika berada di terminal meskipun tidak merdeka 100 persen. Setidaknya berusahalah. Artinya, kita tidak merasa “dijajah” oleh para calo. Berikut ini tips berusaha menjadi manusia merdeka di terminal. (Studi kasus: di terminal Kampung Rambutan Jakarta. Kalau di terminal Cicaheum Bandung dan terminal Leuwipanjang Bandung tidak “segalak” di terminal Kampung Rambutan. Suasana di kedua terminal di kota Bandung itu mirip di terminal Lebakbulus Jakarta dan terminal Giwangan Yogyakarta. Relatif nyaman).

PERTAMA, Ketika mulai memasuki terminal, ada calo yang mendekati dan bertanya: “Kemana?”. Jangan cuek, tetapi jawablah (misalnya): “Bandung”. Secara psikologis, jawaban yang baik dari calon penumpang itu akan dirasa senang oleh calo. (Siapa sih yang senang di-cuek-in?). Selain itu, penegasan jawaban seperti itu akan meringankan beban pekerjaan si calo. Maksudnya, calo ke Bandung akan menuntun (menarik atau mendorong) anda ke bus yang dituju, sedangkan calo ke kota-kota lain akan mencari calon penumpang lainnya. Ketika ditarik-tarik atau didorong-dorong, santai saja. Rileks. Kita berusaha menjadi manusia merdeka di terminal. Ada kalanya saya membeli makanan/minuman/surat kabar lebih dahulu (kalau memang dirasa perlu).

KEDUA, Lalu, biasanya ada pertanyaan berikutnya (Studi kasus: Bandung-Jakarta atau Jakarta-Bandung. Prinsipnya yang ada bermacam-macam bus dalam satu waktu perjalanan yang sama): “AC atau Ekonomi?”. Maksudnya, AC untuk bus patas (seat 2-2 tanpa toilet) atau bus eksekutif (seat 2-2 dengan toilet), sedangkan Ekonomi, bus ekonomi AC (seat 2-3 dengan AC) atau bus ekonomi biasa (seat 2-3 tanpa AC). Jawablah kalau anda sudah yakin dengan bus yang dimaksud (karena anda memang telah merencanakan dan mengetahuinya jauh-jauh hari). Lalu, naiklah. Jangan “panik” kalau calo mengatakan: “Segera berangkat”. Santai saja. Rileks. Toh anda tidak akan ketinggalan. Bus masih banyak. Kalau perlu, keluarlah dari terminal dan naiklah bus yang baru berangkat tersebut. Masih kosong kok. Kalau perlu, anda menunggu 1-2 jam pemberangkatan berikutnya. (Kecuali kalau anda berangkatnya mendadak dan membutuhkan waktu yang cepat).

KETIGA, Kalau pengalaman saya, meskipun sudah yakin dengan bus yang dimaksud, kadang saya tidak langsung naik bus meskipun sudah menjawab: “AC” atau “Ekonomi” atau “Yang mana saja yang lebih dahulu berangkat”. Bagi saya, perjalanan ke terminal tidak sekadar untuk naik bus, tetapi berwisata. Dalam wisata di terminal itu, saya bisa melihat perkembangan suasana di terminal, termasuk merek dan jurusan bus yang tersedia di terminal. Saya biasa duduk atau berjalan-jalan di terminal. Dalam keadaan inilah, ada kalanya sebagian calo turut mengikuti. Di antara mereka, ada yang nyaman dan ada juga yang sedikit memaksa. Santai saja. Rileks. Berusahalah menjadi manusia merdeka di terminal. Pada suatu kesempatan (dulu), dalam salah satu obrolan di ruang tunggu (sedang duduk-duduk) dengan calo, calo itu mengatakan bahwa ongkosnya Rp 25.000,-. Padahal saya tahu ongkosnya Rp 40.000,-. Calo itu pun meralatnya. Saya tahu bahwa calo itu mau membohongi saya, tetapi ternyata saya sudah “pintar” he he he. Cerita-cerita pengalaman seperti itu turut memperkaya pengalaman saya di terminal. Katakanlah, semacam riset.

KEEMPAT, Abaikan kalau ada sebagian calo yang berkata-kata kasar. Malah ada juga calo yang seperti “pemilik” kebun binatang he he he. Santai saja. Kita harus memahami bahwa setiap orang berbeda sikap dan perilaku.

KELIMA, Waspada kalau anda digiring atau ditunjuk calo ke dalam bus AC (Patas/Eksekutif). Padahal, sebetulnya, anda hendak menaiki bus Ekonomi. Jangan sampai tertipu oleh calo nakal. Saya sempat melihat beberapa kali (di terminal Kampung Rambutan beberapa waktu yang lalu) ada calon penumpang yang dimasukkan ke dalam bus AC (Patas/Eksekutif). Saya merasa kasihan kalau penumpang itu ternyata tidak memiliki uang berlebih. Perhatikanlah tipe-tipe bus pada nomor KEDUA di atas. Pengalaman beberapa calon penumpang itu pernah saya alami. Namun, karena saya sudah merencanakan naik bus AC (Patas/Eksekutif), ya tinggal naik saja. Saya tahu bahwa calo itu adalah calo nakal dilihat dari tertawanya si calo setelah ia berhasil menaikkan beberapa calon penumpang yang mungkin merasa tertipu. Pengalaman saya tersebut merupakan riset saya.

KEENAM, Yakinkan diri anda ketika anda telah berada di dalam bus. Maksudnya, tidak ada barang yang tertinggal di rumah. Jika bus itu merupakan bus yang ngetem di dalam terminal dan lalu siap berangkat, maka anda “tidak boleh” turun lagi. Turun sih boleh, tetapi anda harus tetap membayar seperti anda naik bus yang bersangkutan. Saya pernah melihat 3-4 orang (seperti satu pertemanan) yang turun setelah jarak 50 meter dari dalam terminal Kampung Rambutan. Katanya, mereka turun karena barang-barang yang dibutuhkannya tertinggal di rumah. Saat itu, si kernet bus meminta ongkosnya. Alasannya, bus tersebut merupakan bus ngetem yang akan berangkat kalau bus telah penuh penumpang (meskipun yang saya lihat tidak 100 persen penuh). Namun, saya bisa memahaminya. Saya tidak mengetahui pengalaman orang lain. Jadi, saya tidak bisa membandingkannya apakah kita memang harus bayar ongkos atau tidak.

KETUJUH, Waspada jambret atau maling. Jambret atau maling itu pencuri he he he. Upsss, tips ketujuh ini tampaknya bukan tips berusaha menjadi manusia merdeka di terminal ya?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: