Usai Turun dari Bus Jakarta-Bandung, Naik Taksi di Daerah Terminal Leuwipanjang

Bulan Agustus 2013 akan segera berakhir. Di bulan inilah, pada 8 Agustus 2013 lalu, umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H. Dalam rangkaian hari raya itulah kita saling bersilaturrahim, salah satunya saudara saya yang berasal dari Jakarta berkunjung ke Bandung.

Karena blog ini bercerita tentang kendaraan umum (bus kota) dan hal-hal yang berkaitan dengannya maka tentu saja saya akan menceritakannya. Inilah pengalaman saudara saya yang pada hari kedua Idul Fitri menginjakkan kakinya di Kota Bandung.

Jumat, 9 Agustus 2013, pagi hari, saudara saya mendatangi Pool Bus Primajasa di Jalan M.T. Haryono No. 32 Jakarta. Mereka pun naik bus Primajasa menuju Bandung, dalam hal ini Terminal Leuwipanjang. Ongkos (hari lebaran) bus Primajasa dari Jakarta ke Bandung, katanya, Rp 70.000,-

Sesampainya di daerah Terminal Leuwipanjang, saudara saya itu hendak ke kawasan Bandung Utara naik taksi. Biasalah, saudara saya itu nggak mau ribet kalau naik angkot. Ingin cepat sampai ke rumah. Karenanya, dipilihlah taksi. Oh ya, karakter saudara saya ini “boros” uang. Selain itu, ada istilah “kesepakatan” dulu, “bonus” kemudian.

Begini maksudnya. Ketika dia bertemu dengan taksi di daerah Terminal Leuwipanjang, sopir taksi di sana menawarkan ongkos Rp 100.000,- alias tanpa argo. Nah, saudara saya itu karena ingin kesepakatan (baca: pakai argo karena aturannya memang begitu), dia ingin mencari taksi yang pakai argo. Akhirnya, mau tidak mau, Blue Bird lagi, Blue Bird lagi yang dicari dan dipilih. Maklumlah, taksi ini memang dikenal integritasnya dalam menjaga komitmen (kesepakatan).

Naiklah dia ke taksi. Sesudah sampai di kawasan Bandung Utara, ongkos yang tertera dalam argo ternyata “cuma” Rp 41.000,- Nah, karena saudara saya tadi “boros” uang, dia pun membayar ongkos Rp 41.000,- menjadi Rp 50.000,- sebagai bonus. Lumayanlah Rp 9.000,- he he he.

Soal “boros” itu tadi, saya masih punya cerita. Singkat saja ya. Ketika kami berdelapan naik angkot sehingga ongkosnya 8 orang x Rp 4.000,- maka ongkos yang seharusnya kami bayarkan, yaitu Rp 32.000,- Namun, sang sopir angkot malah lama untuk menyerahkan uang kembalian: Rp 50.000,- dikurangi Rp 32.000,- = Rp 18.000,-

“Sudahlah Rp 15.000,- sini. Ribet amat,” ujar saudara saya itu.

Ya, begitulah ceritanya. Kali ini, saya memang tidak hanya bercerita tentang bus kota, tetapi juga tentang hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti taksi itu tadi. Semoga cerita pengalaman ini bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: